Beranda Rubrik Feature Karena Bersastra Kita Bahagia

Karena Bersastra Kita Bahagia

Bambang Eka Prasetya, Sang Seniman Pengembara

287
0
BERBAGI
KONSISTEN BERPUISI: Bambang Eka Prasetya berpuisi di Wisma Perdamaian tahun 2016. (DOKUMEN PRIBADI BAMBANG EP)
KONSISTEN BERPUISI: Bambang Eka Prasetya berpuisi di Wisma Perdamaian tahun 2016. (DOKUMEN PRIBADI BAMBANG EP)

Pria nyentrik yang menyebut dirinya Seniman Pengembara, Bambang Eka Prasetya, tidak pernah lelah untuk berproses kreatif, melakoni berbagai kegiatan berkesenian. Hidup mengembara, dari satu kota ke kota lain, dia lakoni asal bisa bersastra. Karena pria ini berprinsip bahwa: Bersastra Kita Bahagia.

BAMBANG Eka Prasetya, terlahir dari pemain ludruk Jawa Timur. Ia lahir di Jombang, pada 5 Desember 1952. Pria yang intim disapa Babe oleh kawan-kawan seniman di Jawa Tengah ini, masa mudanya kerap mengembara.

Hobi mengembaranya masih terbawa hingga usianya menjelang senja saat ini. Hidup dari satu kota ke kota lain. Keluar masuk kampung, bahkan hutan sekalipun. Sesekali, Bambang juga melancong ke luar negeri, hanya untuk bersastra. Lebih tepatnya, membacakan puisi ciptaannya sendiri, juga mendongeng.

Pengembaraan Bambang kerap dilakukan seorang diri. Hanya bermodal duit seadanya. Untuk apa? “Baca puisi,” katanya, mantap saat ditemui wartawan koran ini di rumahnya yang asri di Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Di kota yang ia singgahi, Bambang tidak malu untuk door to door, dari rumah ke rumah, sekadar untuk berpuisi. Ia sama sekali sedang tidak mengamen. Imbalan berupa materi, jauh dari hati dan pikirannya. Yang ia lakukan, murni membacakan puisi. Sebab, baginya, berkesenian sangat membahagiakan hati, jiwa, dan pikirannya. Kebahagiaannya semakin lengkap, ketika orang lain mengapresiasinya.

“Tidak hanya membaca puisi, saya juga tidak lelah untuk mengajak orang berkesenian, membaca puisi. Siapapun mereka. Mau tua, muda, remaja, ABG, saya rangkul, saya ajak untuk mencintai puisi, menulis puisi, dan membaca puisi,” kata Bambang.

Karenanya, Bambang tidak lelah untuk ‘merayu’ orang-orang dekat maupun kenalan barunya, agar mau menulis puisi dan membukukan karyanya dalam bentuk antologi puisi. Buku-buku antologi puisi itu diterbitkan di bawah bendera Yayasan Nittramaya miliknya. Beberapa buku antologi puisi pun lahir.

Di antaranya, Tabur Bunga Penyair Indonesia dalam Seperempat Abad Haul Bung Karno, Lingkar Sastra Blitar, 1995; Antologi Puisi Penyair Jawa Tengah Jentera Terkasa, Taman Budaya Jawa Tengah, 1998, dan Dari Sragen Memandang Indonesia, Dewan Kesenian Daerah Sragen bersama Forum Sastra Surakarta, 2012.

Juga Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid I dan Jilid 2, Forum Sastra Surakarta, 2013; Antologi Mengenang Gus Dur Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel, Dewan Kesenian Daerah Kudus, 2013; dan Antologi Tadarus Rembulan, Arus Sastra Kalimantan Selatan, Banjarbaru 2013.

Buku-buku lainnya: Antologi Langkah Kita, Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta, 2013, Antologi Habis Gelap Terbitlah Sajak 2013, Semarak Mutiara Januari, Sembilan Mutiara Trenggalek, 2014, Detik Penalti, D3M Kail, Jakarta, 2014, Gemuruh Ingatan, Korban Lapindo Menggugat, Sidoarjo, 2014. Juga Antologi 99 Penyair Indonesia Duka Gaza Duka Kita, Nittramaya Magelang 2014, Antologi Puisi Penyair Indonesia Memo untuk Presiden, Forum Sastra Surakarta 2014; dan Antologi Puisi Penyair Nusantara Merangkai Damai, Nittramaya 2015.

Lulusan Untidar Magelang dan Magister di STIE Pancasatya Banjarmasin itu mengatakan, kegiatan bersastra penuh dinamika. Sebagai seniman, ia dianggap tidak mempunyai masa depan cerah. Untuk itu, Bambang membekali kehidupan ekonominya dengan menjadi guru di SMK Pius Magelang (1975-2001). Bambang menjadi guru kesenian dan guru etos kerja. Ia juga pernah bekerja di perusahaan kontraktor di Kalimantan, yang kini diteruskan oleh putranya.

Ayah lima anak itu sudah mencintai puisi sejak SD. Bambang mengenang, “Pada tahun 1964, ketika kelas VI SD, saya tampil membawakan puisi ‘Dewaruci’ saat KRI Dewaruci bersandar di Surabaya. Nah, sejak itu, kecintaan saya terhadap puisi semakin menjadi-jadi.” Karenanya, sejak SD hingga SMA, Bambang selalu mengikuti lomba puisi. Ia tidak sedang mengejar predikat juara. Melainkan kepuasan batin. “Saya menganggap, sastra tidak mengenal sekat, semua orang bisa mengenal dan mencintai sastra, terutama puisi,” ceritanya.

Kini, di usianya yang mendekati senja, semangat berkesenian Bambang justru menggebu-gebu. Dengan bekal duit pribadi yang minim, Bambang semakin liar mengembara. Dari satu kota ke kota lain, bertemu kawan seniman yang ia kenal, untuk berkesenian di kota yang ia tuju. Tak hanya yang ia kenal. Seniman yang ia belum mengenal secara pribadi pun, Bambang datangi.

“Pasti saya cari sastrawan setempat, meski belum mengenal. Tujuannya, bertukar pikiran dan mengasah keluasan berpikir dalam menyelami alam sebagai sumber inspirasi yang tak ada habisnya. (agus.hadianto/isk)

Tinggalkan Balasan