Beranda Rubrik Cover Story Pemkab Diminta Bangun Museum

Pemkab Diminta Bangun Museum

103
0
BERBAGI
LEGENDA CENGKLUNGAN: Mbah Dalimin WS, sesepuh sekaligus pelatih Cengklungan
LEGENDA CENGKLUNGAN: Mbah Dalimin WS, sesepuh sekaligus pelatih Cengklungan "Padha Rukun" Desa Geblog Kecamatan Kaloran. (WONG AHSAN/JAWA POS RADAR KEDU)

PENGAMAT kesenian asli Temanggung, Bambang Setyadi menilai, Temanggung merupakan ibu dari kesenian cengklungan. Sebab, cengklungan lahir dari Kota Tembakau. “Khazanah kekayaan budaya yang luar biasa, yang dimiliki Temanggung harus diuri-uri. Jangan sampai musnah atau tinggal kenangan,” sentil Bambang.

Maka, agar kesenian cengklungan tidak musnah ditelan zaman, Bambang meminta cengklungan harus terus digaungkan ke semua lapisan masayarakat. Salah satu caranya, menjadikan cengklungan sebagai agenda rutin Festival Sekolah. “Sebenarnya, para remaja dan pemuda bukan tidak suka atau tertarik dengan cengklungan. Karena tidak tahu saja, makanya tidak suka. Bagaiman bisa cinta, kenal saja tidak!” kata Bambang.

Masih menurut Bambang, Pemkab Temanggung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, harus memberi porsi terhadap keseninan cengklungan. Pemkab musti memfasilitasi, memberikan dukungan moril, juga dukungan finansial. “Kesenian cengklungan harus ditampilkan saat ada even-even besar kabupaten. Juga saat ada kunjungan atau tamu-tamu kehormatan. Seperti beberapa waktu lalu, ketika Presiden Jokowi hadir di Temanggung, mestinya (cengklungan) bisa disuguhkan.”

Untuk menampung potensi kesenian di Temanggung—salah satunya cengklungan—sekaligus mendokumentasikanya, sudah saatnya Temanggung punya museum. Tujuannya, sebagai pusat kegiatan kesenian, juga edukasi kesenian. “Saya berharap Pemkab bisa berpikir untuk membangun museum. Infrastruktur yang lain penting, membangun museum juga tak kalah pentingnya.”

Bambang juga meminta kepada para pelaku seni, jangan hanya mengandalkan pemerintah untuk pengembangan dan keberlanjutan kesenian cengklungan. Paguyuban atau kelompok-kelompok kesenian, harus kreatif dan inovatif. Salah satu terobosan yang bisa dilakukan untuk memperkuat dukungan finansial adalah melibatkan produsen atau industri rokok yang ada di Temanggung. “Kan ada Djarum, Gudang Garam dan Bentoel. Mereka bisa kita libatkan menjadi bapak asuh atau Dewan Pembina, supaya mereka turut memiliki dan bisa memberikan dukungan penuh.”

Selain cengklungan yang dikhawatirkan punah, ada juga kesenian lain yang terancam punah. Di antaranya, puntulan dan wulan sunu. Melihat problematika ini, Dewan Kesenian Temanggung, diminta bisa menguatkan perannya. Tepatnya, untuk menggerakkan dan menghidupkan kembali kesenian-kesenian yang kini lesu. “Saya kira harus ada pertemuan rutin dan berkala sebagai media sambung rasa antara pemerintah (pejabat), seniman, dan pelaku seni itu sendiri. Harus ada sinergi ketiganya untuk maju bersama,” pungkasnya. (wong.ahsan/isk)

Tinggalkan Balasan