Beranda Rubrik Cover Story Nyaris Punah, Pemainnya Rata-Rata S3

Nyaris Punah, Pemainnya Rata-Rata S3

Cengklungan dan Legenda Dalimin WS

115
0
BERBAGI
NYARIS PUNAH: Paguyuban Seni Tari Cengklungan
NYARIS PUNAH: Paguyuban Seni Tari Cengklungan "Padha Rukun" Desa Geblog Kecamatan Kaloran saat pentas di Balai Desa setempat. (ISTIMEWA)

Satu per satu kesenian asli Temanggung, nyaris punah. Dari sekian yang terancam punah, salah satunya cengklungan. Kesenian ini hanya menyisakan satu kelompok yang (masih) bertahan. Itu tidak lepas dari kegigihan sang legenda cengklungan, Dalimin Wignyo Sumitro, 74 tahun, warga Desa Geblog, Kecamatan Kaloran, Temanggung, yang masih setia menggeluti kesenian cengklungan sampai saat ini.

NAMA panggilannya cukup singkat: Mbah Dal. Temanggung beruntung punya pria sepuh seperti Dalimin WS. Di usianya yang semakin senja, Dalimin WS tetap setia menjadi pelatih kesenian cengklungan di desanya: Geblog, Kaloran. Ironisnya, hingga saat ini, belum ada regenerasi pemain cengklungan. Dalam setiap pementasan, pemainnya ya itu-itu saja. Tidak ada muka-muka baru, apalagi wajah-wajah remaja bling-bling. Semua pemainnya rata-rata sudah S3 alias sampun sepuh-sepuh.

Baca Juga :

Mbah Dal alias Dalimin seolah tengah sendirian mempertahankan cengklungan di tengah hiruk pikuknya ekspansi modernisasi. Kepada koran ini yang menemuinya secara khusus, Dalimin mengaku prihatin dengan kesenian cengklungan. Toh, keprihatinannya tak membuat dia hanya berpangku tangan. Sama sekali tidak. Dalimin tetap saja melatih cengklungan.

Dalimin bercerita, asal mula cengklungan hingga sekarang masih jadi tanda-tanya; siapa yang kali pertama memainkan dan memperkenalkan. Seingat dia, kesenian ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Malah, ucap Mbah Dalimin, hampir di di pelosok desa di Temanggung, kala itu, cengklungan lazim dimainkan. Utamanya, jika sedang ada acara-acara tertentu, seperti perkawinan atau khitanan.

“Saya mengenal kesenian ini (cengklungan) sejak kelas satu Sekolah Rakyat (SR), sekitar 1950-an,” kata Mbah Dalimin. Ia mengenang, masa kecilnya menjadi penggembala kerbau. Bersama teman-teman sesama penggembala, ia memainkan cengklungan di tengah sawah, di Dusun Nglarangan, Desa Candimulyo, Kecamatan Kedu.

“Saya asli Kedu. Saya tinggal di Geblog, karena mendapat teman hidup (istri) orang sini. Karena itu, saya memperkenalkan cengklungan di sini (Geblog). Alhamdulillah, sampai sekarang masih bertahan,” ucapnya, bangga.

Bapak empat anak itu belajar cengklungan secara otodidak. Sepengetahuan Mbah Dalimin, cengklungan awalnya hanya mainan biasa. Bukan kesenian. Namun, seiring perkembangan waktu ketika itu, ternyata permainan tersebut ada alunan bunyi musik, diiringi lagu-lagu rakyat dan tarian. Sejak saat itulah, cengklungan disebut-sebut sebagai kesenian.

“Kesenian ini, mulai terkenal sejak 11 Maret 1998 lalu. Waktu itu ada pertunjukan di Temanggung, disyuting TVRI dan ditayangkan beberapa kali, juga diliput oleh koran nasional. Sejak itu, masyarakat luas mengenal cengklungan.”

Untuk memperkuat, sekaligus melestarikan cengklungan, Mbah Dalimin membentuk sebuah paguyuban. Namanya, Padha Rukun. “Sebenarnya, sudah lama kita bentuk. Namun, resmi punya nama sejak 2007.” Paguyuban ini berlatih seminggu sekali. Tepatnya, malam Minggu di rumah Dalimin. Sedikitnya, ada 25 anggota paguyuban.

Paguyuban siap tampil jika mendapatkan undangan pentas. Seperti kegiatan pengajian, pernikahan, khitanan, dan lainnya. “Kita sering pentas dalam acara-acara Pemkab Temanggung, seperti HUT Temanggung. Bapak Bupati Temanggung juga sering mengundang kita untuk tampil pada saat acara-acara khusus di pendopo saat menerima tamu-tamu agung, seperti kehadiran gubernur dan tamu penting lainnya.”

Cengklungan sebenarnya bercerita tentang kehidupan petani. Setiap gerakannya, menggambarkan tarian petani dalam mengolah pertanian. Ada gerakan mencangkul, menanam padi, menyiangi padi, menghalau burung, menuai, sampai menumbuk padi. “Selain bercerita tentang kehidupan petani, permainan ini sarat dengan makna keagamaan.”

Yang menarik, alat musik pengiring bernama cengklung, berasal dari payung kruduk (sejenis payung/mantol) yang dulu sering digunakan para penggembala ternak ketika musim hujan. Payung kruduk yang kini jarang ditemui, tersimpan di sebuah museum di Den Haag, Belanda.

Benda ini terbuat dari bambu, clumpring, ijuk dengan dawai dari suket (rumput) grinting. Keseluruhan alat musik pengiring terdiri atas empat payung kruduk. Juga satu seruling bambu. Cengklung terbagi menjadi beberapa fungsi. Yakni bass, kendang ketuk, kenong, dan melodi/siter. Meski perkembangan industri musik modern kian pesat, Mbah Dalimin optimistis cengklungan tetap langgeng. (wong.ahsan/isk)

Tinggalkan Balasan