BERBAGI

Beruntung, Sony bisa selamat. Beberapa saat sebelum longsor sedalam 50 meter itu, Sony yang mengendarai motor sempat berhenti di pinggir jalan karena salipan dengan kendaraan lain. 

”Jalannya sempit. Saya menunggu kendaraan itu lewat,” jelasnya. Saat itu, dia baru saja mengantar tetangganya yang berangkat umrah bersama tetangga lainnya. 

Ketika dia akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada suara gemuruh dari atas. Sony dan motornya sempat terseret ke jurang, untungnya dia tersangkut di pohon pinggir aspal. Sony pun berhasil lolos dan menjauh dari lumpur yang turun dari tebing. 

Sementara Budi, Kades Kemuning Lor, kecamatan Arjasa mengaku, saat longsor dia berada di sekitar lokasi. Bahkan, Budi juga sempat berlari bersama Sony dan warga lain yang baru saja ikut mengantar tetangganya berangkat umrah.

”Longsoran menutup saluran, membuat aliran air tersumbat,” katanya.  Akibat tersumbat lumpur itulah, air terus membesar dan menggerus pondasi saluran dan menyebabkan jebol. ”Pondasi saluran juga merusak dan membuat tanah di bagian bawah saluran ikut longsor,” ujarnya. Hal ini berpotensi terjadinya longsor susulan.

Untuk mengantisipasi hal lebih buruk, warga dan perangkat desa dikerahkan. ”Karena kalau lumpur ini dibiarkan, jika hujan maka air akan mengalir lagi ke pondasi saluran yang sudah ambrol. Ini bahaya,” jelasnya.

Karena itulah, pondasi saluran yang sudah mulai retak itu ditutup terpal bantuan dari BPBD Jember. ”Kalau hanya saluran yang dibersihkan, tetapi retakan tidak ditutup, sangat rentan longsor lagi,” ujar Camat Arjasa, Bobby Ari Sandi.

Dia menyebutkan, lebar tebing yang longsor sekitar 10 meter dengan ketinggian sekitar 50 meter dari jalan aspal hingga di depan rumah warga. 

(jr/jum/ram/hdi/das/JPR)

BERBAGI