oleh

Dari Lereng Merbabu, Anak-Anak Pelangi Meraih Mimpi

-Berita, Feature-902 views

Kenangan itu begitu membekas di ingatan Tarminah, 25, guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pelangi di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ia harus sigap mengevakuasi anak-anak didiknya keluar dari bangunan PAUD ketika hujan deras mengguyur. Atap keropos, membuat air langsung mengucur ke bawah. Belum lagi, ancaman ambrolnya eternit yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“ITU dulu, sebelum Astra sampai di lereng gunung Merbabu ini. Sekarang tidak lagi,” ucap Tarminah, di sela-sela mengawasi anak-anak didiknya bermain jungkat-jungkit di halaman bangunan PAUD. Guru berhijab itu menuturkan, Astra melalui Yayasan Astra Honda Motor, memberikan bantuan berupa uang untuk dana pembangunan gedung PAUD Pelangi di Gejayan, Desa Banyusidi. “Tentu kami sangat berterima kasih kepada Astra, khususnya kepada Yayasan Astra Honda Motor,” ucap Tarminah yang kini bisa mengajar anak-anak didiknya dengan perasaan tenang.

Pagi itu, pukul 09.00, siswa-siswi PAUD Pelangi tengah bermain. Ada Prapti, Fira, Susi Lukman, dan Dava. Mereka antusias sekali bermain jungkat-jungkit. Tawa riang bocah-bocah imut itu pun pecah, ketika jungkat-jungkit menyentuh tanah, tapi di ujung sisi lainnya melonjak ke atas. Sesekali, mereka menghampiri ibunya untuk sekadar meminta minum. Atau, sekadar bergelayut manja di lengan sang bundanya. Mereka merasakan kenyamanan bermain dan belajar di gedung PAUD yang baru diresmikan setahun lalu. Tepatnya, pada 10 November 2016.

Prapti, Fira, Susi, Lukman, Dava dan anak-anak PAUD Pelangi lainnya, memang tidak pernah mengalami kondisi belajar dan bermain di tengah suasana yang tidak nyaman. Beda dengan kakak-kakak mereka, yang kini sudah duduk di bangku kelas 5 dan 6 SD. Dulu, pada 2011, anak-anak PAUD belajar dan bermain di dalam bangunan yang sudah reyot. Bangunan sederhana itu adalah rumah tua milik Slamet, warga setempat. Kondisi rumah sangat tidak layak. Lantai masih berupa tanah. Atapnya keropos. Eternitnya juga bolong-bolong. Belum lagi, di samping rumah, teronggok kandang kambing dan sapi. Alhasil, bau kotoran hewan ternak, menjadi aroma khas yang musti dihirup oleh anak-anak PAUD Pelangi ketika beraktivitas.

Kepala Dusun (Kadus) Gejayan, Sulis Prasetyo, bercerita, ketika proses belajar dan bermain anak-anak PAUD masih di rumah kuno milik Slamet, orang tua kerap khawatir akan keselamatan putra-putri mereka. Utamanya, jika hujan deras mengguyur wilayah Gejayan. “Takutnya kalau atapnya tiba-tiba ambruk, karena kayunya sudah pada keropos.” Karena itu, jika turun hujan, anak-anak PAUD Pelangi secepatnya dipulangkan. Sebaliknya, jika hujan mengguyur sebelum waktu belajar dan bermain, maka otomatis PAUD libur. Kata Kadus Sulis, “Kalau tetap masuk percuma saja, karena tempatnya basah.”

Sulis dan warga Desa Banyusidi bersyukur, kini anak-anak PAUD Pelangi sudah bisa belajar dan bermain dengan nyaman. Termasuk, putri bungsunya: Neifira Kurniasari, 5. “Sebagai kepala dusun, harapan kami tentu keberadaan gedung PAUD yang sekarang, akan meningkatkan kualitas pendidikan sumber daya manusia warga kami.”

PAUD, ucap Sulis, sangat penting. Ia merasakan sendiri, perbedaan anaknya yang mengenyam PAUD dan yang tidak. Kata Sulis, anak bungsunya jauh lebih cerdas, berani, dan kritis, dibandingkan kakaknya yang tidak mengenyam PAUD. Keberadaan gedung PAUD Pelangi, juga berimbas pada semangat belajar anaknya. Neifira Kurniasari kini lebih rajin berangkat sekolah. “Anak-anak di dusun kami, sekarang semakin rajin masuk belajar dan bermain.”

Rerata pendidikan warga Dusun Gejayan hanya lulusan SMP dan SMA. Ada beberapa yang lulusan perguruan tinggi, tapi sangat jarang. Jumlah warga di Dusun Gejayan 500 jiwa. Dusun ini berjarak sekitar 30 km dari Kota Mungkid, Ibu Kota Kabupaten Magelang. Jalan masuk ke Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, masih berbatu. Hutan pinus mengelilingi wilayah desa ini. Mayoritas warganya bekerja sebagai petani sayuran dan peternak. Di sebagian dusun, jalannya masih berbatu. Jika hujan turun, kabut tebal menyelimuti dusun ini. Gejayan sendiri hanya salah satu dari 22 dusun yang masuk wilayah Desa Banyusidi.

Anak-anak PAUD Pelangi berasal dari tiga dusun: Nglarangan, Babadan, dan Gejayan. Bagi anak-anak yang berasal dari luar Dusun Gejayan, mengikuti proses belajar dan bermain di PAUD Pelangi, butuh perjuangan ekstra. Setiap pagi, mereka harus melintasi jalan berkontur naik-turun, khas jalan di wilayah pegunungan. “Kalau hujan seperti sekarang, jalannya sangat licin. Harus hati-hati sekali. Maunya saya, kalau hujan nggak usah masuk, tapi anak saya maunya tetap masuk. Jadinya ya harus hati-hati naik motor ke lokasi PAUD di Gejayan,” kata Warti, 25, orang tua Dava, 5, siswa PAUD yang berasal dari Dusun Babadan.

NYAMAN: Anak-anak PAUD Pelangi di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang belajar dan bermain di gedung baru bantuan Yayasan Astra Honda Motor. (AGUSHADIANTO/RADARKEDU.COM)
NYAMAN: Anak-anak PAUD Pelangi di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang belajar dan bermain di gedung baru bantuan Yayasan Astra Honda Motor. (AGUSHADIANTO/RADARKEDU.COM)

Kepala Desa Banyusidi, Yuwono, menuturkan, semula ia tidak percaya desanya akan mendapat bantuan dari Astra. Dalam pemikirannya, Astra hanya identik dengan kendaraan bermotor. “Kami mendapat kabar akan dibantu Astra, semula katanya Rp 40 juta. Saya bilang siap,” kenang Yuwono. Dengan semangat gotong-royong dan swadaya warga desa, Kades Yuwono optimistis pembangunan gedung PAUD Pelangi akan terwujud. “Ternyata kami justru menerima bantuan dana Rp 85 juta dari Yayasan Astra Honda Motor, Alhamdulillah.”

Lokasi PAUD Pelangi bersebelahan dengan SD Gejayan. Bangunan PAUD diperuntukkan bagi siswa-siswi PAUD besar dan kecil. Untuk memisahkan dua kelas, guru-guru PAUD hanya membatasinya dengan lemari buku dan tempat mainan anak-anak. Kegiatan belajar dan bermain seminggu 4 kali. Senin, Selasa, Jumat, dan Sabtu, mulai jam 07.30-09.30. Keseluruhan bangunan PAUD Pelangi berukuran 8 x 6 meter per segi. PAUD Pelangi berdiri di atas tanah bengkok desa. Cat bangunan warna-warni. Kombinasi merah, kuning, hijau, biru muda, dan krem.

Saat ini gedung PAUD Pelangi menjadi bangunan multifungsi. Selain untuk belajar dan bermain siswa PAUD, juga untuk pos pelayanan terpadu. “Yang membuat kami juga bangga, karena PAUD Pelangi satu-satunya PAUD di Kabupaten Magelang yang punya gedung sendiri. Ini tentu berkat Astra, juga berkat Bunda PAUD Kabupaten Magelang, Ibu Tanti Zaenal Arifin.” Saat ini, PAUD Pelangi menjadi PAUD teraktif dibandingkan PAUD lain di Desa Banyusidi.

Guru PAUD Pelangi lainnya, Lestari, menyampaikan, selain pernah menempati rumah warga, aktivitas PAUD juga pernah dilakukan di Padepokan Wargo Budoyo. Padepokan yang kesehariannya dipakai warga untuk berkesenian. Sayangnya, bangunan padepokan kurang representatif, karena tempatnya terbuka. Yang terjadi, jika ada pedagang makanan dan minuman datang, anak-anak bubar karena mereka lebih tertarik membeli jajanan.

Guru dan orang tua siswa akhirnya memindah lokasi belajar dan bermain anak-anak PAUD. “Tujuannya, agar anak-anak fokus belajar dan bermain,” kata Lestari. Tempat yang dipilih SD Gejayan. Pihak SD tidak keberatan. Hanya saja, proses belajar dan bermain anak-anak PAUD Pelangi, dilakukan setelah bubaran SD, pukul 13.00-15.00. “Yang ada, bukannya malah tambah semangat belajar dan bermain, anak-anak malah pada rewel, karena ngantuk.”

Dengan keberadaan gedung bantuan Yayasan Astra Honda Motor, Lestari, Tarminah, dan orang tua siswa-siswi PAUD, sangat bersyukur. “Anak-anak jadi semangat bersekolah. Kadang guru belum datang, siswa sudah datang duluan.” Orang tua siswa juga merasa ikut memiliki bangunan PAUD. Mereka suka rela turut merawat. “Ibu-ibu piket bergiliran membersihkan ruangan PAUD usai jam bermain dan belajar,” kata Lestari. Mereka menyapu ruangan kelas dan teras bangunan.

Imbas positif lainnya, animo warga Desa Banyusidi memasukkan anak-anaknya ke PAUD Pelanggi, semakin tinggi. Sebelum dan sesudah ada bangunan, perbandingannya 50 persen. Jika sebelum ada gedung representatif bantuan Astra, siswa-siswi PAUD hanya 15-20 anak, sekarang dua kali lipatnya.

Guru Tarminah, Lestari, dan Khoirunnisa, berharap, anak-anak yang mereka bina, kelak pendidikannya berhasil melampaui pendidikan para orang tuanya. ““Kita tidak akan pernah tahu, mereka jadi apa kelak. Mungkin dari PAUD Pelangi ini ada yang nantinya jadi dokter, insinyur, pengusaha, menteri, bahkan presiden.” Untuk itu, mereka ikhlas mengajari anak-anak di lereng gunung Merbabu tersebut. “Mereka sekarang sedang berada di usia emas. Jadi, apa yang ditanam sekarang, sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa,” kata Lestari.

BANTUAN ASTRA: Wakil Ketua Yayasan Astra Honda Motor Ahmad Muhibbuddin (tengah) bersama Bunda PAUD Kabupaten Magelang, Ny Tanti Zaenal Arifin (kiri) saat meresmikan gedung PAUD Pelangi pada 10 November 2016. (TANTI FOR RADARKEDU.COM)
BANTUAN ASTRA: Wakil Ketua Yayasan Astra Honda Motor Ahmad Muhibbuddin (tengah) bersama Bunda PAUD Kabupaten Magelang, Ny Tanti Zaenal Arifin (kiri) saat meresmikan gedung PAUD Pelangi pada 10 November 2016. (TANTI FOR RADARKEDU.COM)

Wakil Ketua Yayasan Astra Honda Motor Ahmad Muhibbuddin menyatakan, program bantuan pembangunan fasilitas pendukung untuk institusi PAUD seperti yang dilakukan di Dusun Gejayan, merupakan wujud nyata Astra dalam mendukung terwujudnya pendidikan yang lebih baik di Indonesia. “Tentu kami berharap, anak-anak PAUD Pelangi, dengan bangunan yang representatif ini, akan semakin nyaman belajar dan bermain di kelas,” kata Ahmad Muhibbuddin yang pada 10 November 2016 silam, juga menghadiri peresmian bangunan PAUD Pelangi. Bangunan baru PAUD Pelangi diresmikan oleh Bunda PAUD Kabupaten Magelang, Ibu Tanti Zaenal Arifin.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kata Ahmad Muhibbuddin, merupakan proses pendidikan yang sangat penting. Sebab, pada usia ini, anak mengalami periode emas dalam tumbuh kembang mereka. Sehingga kualitas pendidikan yang diterima, akan berpengaruh banyak pada kualitas anak nantinya. “PAUD merupakan wahana bermain untuk mengembangkan kemampuan bahasa, kecakapan sosial, emosional, serta kemampuan kognitif anak-anak.”

Ahmad Muhibbuddin menyampaikan, Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) didirikan pada 1995, merupakan organisasi sosial yang mandiri. Misinya, mendukung kehidupan masyarakat di bidang pendidikan dan sosial melalui program pemberian beasiswa bagi siswa prasejahtera dan pembangunan fasilitas pendukung untuk institusi pendidikan, program edukasi masyarakat tentang keselamatan di jalan, program pelestarian lingkungan hidup serta kegiatan amal untuk berbagai aktivitas sosial dan budaya, termasuk bencana alam. (agus.hadianto/isk)

Komentar

Terkini