oleh

Tabungan Receh dari Hasil Parkiran Ayah

-Feature, Rubrik-533 views

NAMAnya Eka Duta Prasetyo. Remaja 16 tahun ini pantas menjadi duta pendidikan. Semangatnya menuntut ilmu sungguh luar biasa. Menjadi inspirasi bagi anak sebayanya. Berbekal uang recehan tabungan sejak duduk di sekolah dasar ia mendaftar di MAN 1 Kota Magelang. Namanya pun menjadi viral di media sosial. Banyak kalangan bersimpati padanya.

Rumah sederhana di Perum Purna Bhakti Indah (PBI) RT 5 RW 9 Desa Ngadirojo Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, Rabu (21/6) tampak lengang. Seorang perempuan berkerudung berjalan tertatih-tatih di depan rumah.

“Saya neneknya Duta. Silakan masuk. Anaknya sedang ngurus sekolah di MAN,” cetus Sutiyah, 63, perempuan tua berkerudung hitam itu mempersilakan Jawa Pos Radar Kedu masuk rumah. Di ruang tamu berukuran sekitar 2 x 3 meter tersebut tidak tampak barang mewah. Hanya kursi kayu dan foto-foto dipajang di dinding yang sudah mengelupas. Sepeda gunung tampak disandarkan di tembok. Sepeda itulah yang menemani Duta menuntut ilmu di MTs Negeri Kota Magelang setahun terakhir ini.

Duta bersama ayahnya, Agung Prasojo, 42, dan neneknya, Sutiyah, tinggal di rumah kontrakan sederhana itu. Ketika berusia sekitar 3 tahun Duta ditinggal ibunya, Tuti, 36, bekerja di luar negeri sebagai TKW. Akhirnya Duta diasuh nenek dan ayahnya hingga sekarang. Terlebih orang tuanya kemudian berpisah.

“Duta itu anaknya tidak neko-neko. Kalau saya sakit, dia yang mengurus rumah. Ayahnya bekerja sebagai tukang parkir di RST (Rumah Sakit Tentara dr Soedjono Magelang, Red). Jadi ia mencuci piring, masak nasi sendiri,” papar Sutiyah yang sejak lama menderita diabetes dan sering opname di rumah sakit. Bila sang nenek opname di rumah sakit, Duta harus menjaganya. Termasuk belajar di rumah sakit pun dilakukan.

Sutiyah sering masgul bila melihat cucunya pulang sekolah kehujanan. Bajunya basah, lalu dikeringkan. Dan paginya dipakai ke sekolah.

Di tengah keterbatasan ekonomi, semangat Duta untuk sekolah tidak pernah putus. Setiap hari, remaja yang lahir 1 Juni 2011 itu berusaha menabung untuk bekalnya melanjutkan sekolah. “Saya punya 4 toples tabungan. Yang tiga toples untuk uang receh seribuan, yang 1 untuk uang kertas,” cerita Duta begitu tiba di rumah setelah selesai menyelesaikan urusan administrasi di sekolahnya yang baru, MAN Kota Magelang di Payaman kemarin.

Ia menabung di toples tersebut sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Duta diberi uang saku ayahnya berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu dalam bentuk recehan. Maklum ayahnya seorang tukang parkir yang setiap hari mendapatkan uang recehan. Uang saku tersebut tidak semuanya dipakai.

“Saya bertekad setiap hari harus menabung paling tidak Rp 10 ribu. Tabungan ini untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Jadi tidak saya ambil. Di sekolah juga jarang jajan. Karena sudah bawa bekal nasi,” tutur lulusan MTs Negeri Kota Magelang yang rajin berpuasa Senin-Kamis tersebut.

Bahkan neneknya semula tidak tahu kalau sang cucu menabung di toples. Begitu akan mendaftar sekolah, ia membuka tabungan toplesnya. Nominalnya mencapai sekitar Rp 7 juta. Dia mengaku tidak malu membayar uang sekolah dengan duit receh. “Ayah saya selalu bilang, ini duit halal, jadi tidak perlu malu,” cetusnya sembari tersenyum.

Uang recehan itu lantas ditata sedemikian rupa agar rapi, diikat dengan selotip. Lalu dibawa ke sekolah, jumlahnya sekitar Rp 1,5 juta untuk membayar seragam dan administrasi lainnya. Sebelumnya ia sempat ragu. Khawatir sekolah akan menolak duit recehnya. Ternyata ia malah mendapat simpati dari berbagai kalangan di seantero negeri setelah duit recehan itu diunggah di media sosial.

Bahkan MAN 1 Kota Magelang pun membebaskan biaya sekolahnya. Dan uang recehan yang dibayarkan di sekolah dikembalikan ke Duta dalam bentuk tabungan. “Uang itu kami kembalikan dalam bentuk tabungan di BRI. Bahkan dia mendapatkan prioritas bila nanti menabung,” ungkap Agung Dwi Lasmono, staf tata usaha MAN 1 Kota Magelang yang mengurus administrasi Duta.

Kemarin Agung mengajak bocah yang rajin salat tahajud itu ke bank untuk menyimpan uangnya. Bahkan tidak sampai hitungan jam, rekening tabungannya sudah bertambah lebih dari Rp 2 juta, hasil transferan dari donatur yang simpati dengannya. Ustad Yusuf Mansur pun ikut berkomentar di media sosial bahkan mengajak Duta untuk belajar di pondok pesantrennya. Tidak ketinggalan dari Kementerian Agama langsung menghubungi pihak sekolah.

Duta yang bercita-cita menjadi wiraswasta di bidang komputer itu mengaku akan terus menabung demi masa depannya. Ia bertekad membeli sepeda yang lebih bagus untuk dipakai ke sekolah, yang bisa diatur ketinggiannya sehingga tidak membuatnya capek saat dikayuh. Sepeda yang saat ini dimiliki adalah pemberian kerabatnya di Jakarta. Selain itu bocah humoris ini berharap memiliki laptop untuk menunjang belajarnya. (lis/ton)

Komentar

Terkini